選擇語言 · Choose your language


Buku lainnyaSpirit Junkie (2011);May Cause Miracles (2013);Miracles Now (2014);The Universe Has Your Back (2016);Judgment Detox (2018);Happy Days (2022)
🔒 Arrive at Tasmania and visit the Tasmanian Waratah to unlock this
Sail to TasmaniaBanyak orang berdoa, bermeditasi, membuat papan visi, dan mengucapkan afirmasi setiap hari, tetapi tetap tak bisa mewujudkan hidup yang mereka inginkan. Penulis percaya masalahnya sering berasal dari kemelekatan berlebihan: terjebak dalam “manifestasi yang panik”, mengira makin banyak yang dilakukan, makin banyak yang didapat. Upaya berlebihan ini lahir dari rasa takut dan kontrol, dan justru menghambat manifestasi.
Buku ini disusun menjadi 11 prinsip spiritual yang diikuti langkah demi langkah, dengan alat seperti metode 3 langkah “Memilih Lagi”, melepas 7 penghalang, dan meditasi untuk mengusir kabut.
Masyarakat mengajari kita bahwa kebahagiaan adalah “hadiah setelah kerja keras”; penulis berkata itu keliru: kamu layak merasa baik tanpa alasan dan syarat. Menjadikan kebahagiaan prioritas adalah titik awal manifestasi.
Saat merasa tidak baik, gunakan tiga langkah ini untuk segera menyelaraskan diri kembali:
Contoh dari penulis: saat bukunya Judgment Detox terbit, ia kewalahan, pikirannya terus mengulang “kalau bukan aku, tak ada yang mengerjakannya”. Ia makin banyak memikul dan makin jarang meminta bantuan, dalam spiral menurun—pikiran itu sendiri menciptakan kenyataan yang ia takutkan.
Emosi punya frekuensi tinggi dan rendah: takut, sedih, putus asa, cemburu, marah, dan malu ada di bawah; gembira, syukur, bebas, cinta, dan gairah ada di atas.
Penulis mengutip skala Abraham-Hicks yang mengurutkan emosi dari terendah ke tertinggi dalam 22 tingkat. Melompat langsung dari takut ke gembira itu sulit, tetapi naik satu anak tangga mungkin, misalnya:
Takut → Khawatir → Kecewa → Harapan → Optimisme → Gembira
Caranya: temukan dengan jujur kamu di anak tangga mana, lalu gunakan pikiran, kegiatan, atau percakapan untuk naik selangkah kecil demi selangkah kecil.
Penulis mengajak pembaca melewati 7 penghalang—jebakan psikologis di mana rasa takut menghambat kekuatan mewujudkan, seperti keyakinan membatasi soal kekurangan, takut ditolak, membandingkan dan iri, serta takut bahwa “hal baik tak bertahan lama”.
Iri hati lahir dari rasa takut bahwa “tidak cukup untuk semua orang”. Di kelas-kelasnya, penulis sering bertemu siswa cemerlang dari berbagai bidang yang bertanya, “Siapa aku sampai berani melakukan ini?” Di balik pertanyaan itu ada rasa takut.
Anak-anak secara alami merasakan dunia di luar materi, tetapi saat dewasa kita membangun tembok antara yang material dan spiritual. A Course in Miracles menyebut keyakinan bahwa kita terpisah dari semesta sebagai “gagasan kecil yang gila”; rasa terpisah ini memupuk rasa takut, penghakiman, dan trauma, serta memutus kita dari intuisi dan bimbingan.
Contoh dari penulis: diundang berbicara di SuperSoul Sessions milik Oprah, ia sangat gugup menghadapi panggung besar. Alih-alih mengertakkan gigi, ia memohon dalam hati agar mendiang mentor spiritualnya, Wayne Dyer, mendampinginya; dengan melepaskan sebagian kontrol, ia membawakan ceramahnya dengan lancar.
Mewujudkan bukan berarti menunggu pasif; melainkan bertindak selaras secara spiritual sambil melepaskan kontrol.
Contoh dari penulis: ia sangat ingin tampil di halaman gaya New York Times edisi Minggu. Setelah sekali menyebutkannya kepada seorang wartawan kenalan, ia kembali fokus pada kelas dan ceramahnya tanpa mendesak. Beberapa bulan kemudian, koran itu meneleponnya untuk wawancara.
Ia ingin menjadi ibu, tetapi bertahun-tahun mencoba tak membuahkan hasil. Untuk sementara ia mencoba mengendalikan hasil lewat pola makan dan pelacakan ovulasi, yang justru menambah kecemasan. Lewat doa dan meditasi, ia belajar melepaskan jadwalnya dan memercayai semesta, dan ia hamil pada 2018.
Saat segalanya mulai membaik, rasa takut sering muncul lagi dalam bentuk lain: “Bagaimana kalau ini terlalu indah untuk jadi kenyataan?”, “Bagaimana kalau semuanya runtuh?” Penulis mengaku bahwa saat karier, hubungan, dan kehamilannya berjalan baik, satu komentar teman tetap menjerumuskannya ke kecemasan.
Keyakinan bahwa “hal baik tak bertahan lama” itu sendiri adalah penghalang. Cara menghadapinya:
Kesimpulan buku ini: berhentilah memaksa, belajarlah melepaskan, terus rasakan hal baik dan terus berlatih, maka hidup idealmu akan terwujud pada waktu yang tepat.
Share your thoughts! You might meet voyagers who think just like you.
Daftar sebagai pelayar untuk membuka botol-botol ini.
0 botol
Lautan Buku punya 16 pulau nyata, satu untuk setiap topik. Setiap bangunan di pulau adalah sebuah buku.
Sebelum berlayar, Shang akan mendaftarkan kapalmu.